Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:20 Wita

Pesantren Harus Lebih Ekspansif Berperan di Semua Aspek Kehidupan

Editor: Firman
Share

■ Bincang Podcast Bersama Dr Ir H Abdul Aziz Mudzakkar MSi (2)

HidayatullahMakassar.id — Masih dari bincang Podcast seri Munas V Hidayatullah bersama anggota Badan Pekerja Munas Hidayatullah yang juga anggota Dewan Pertimbangan Pemimpin Umum Hidayatullah Dr Ir H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi.

Berikut ulasan edisi kedua dari bincang podcast yang dipandu Dirut Al Bayan Media Corp/Pempred HidayatullahMakassar.id Firmansyah Lafiri tersebut.

Realitas bernegara kita saat ini ada proses pelaksanaannya yang tidak singkrong dengan prinsip-prinsip yang sudah diletakkan oleh para ulama, yang berperan besar saat mendirikan negara ini, mengapa demikian ?

Itu karena adanya pengaruh dari ideologi luar, seperti ideologi liberalisme yang turunannya dalam politik disebut demokrasi dan turunannya dalam ekonomi disebut kapitalisme.

Kapitalisme yang juga berbasis dari ideologi liberalisme dan substansinya adalah materialisme ini merupakan permasalahan besar bagi negara kita karena tidak sejalan dengan ideologi dasar dari negara Indonesia yaitu Pancasila.

Seakan-akan ideologi liberalisme tidak terbendung belakangan ini bahkan tidak ada kekuatan yang mampu membendung trend ini dan mungkin karena dampak dari pengaruh globalisasi ?

Kembali lagi ke sejarah Indonesia bahwa dulu ketika dalam diskusi BPUPK, para tokoh-tokoh bangsa menolak membuat dasar negara dengan mengambil falsafah-falsafah barat seperti itu karena memang bertentangan di bumi Indonesia.

Interaksi antara ideologi Pancasila dengan Ideologi global seperti, liberalisme, sosialisme dan demokrasi misalnya.

Konsep politik Islam itu Syura yang sudah dirumuskan di sila keempat Pancasila di situ ada titik temu, dan seharusnya kita mengambil titik temu itu dengan baik tapi kemudian kita tidak menjadikan itu interaksi yang baik, justru sepenuhnya mengambil demokrasi ala barat.

Bahkan demokrasi yang ada di Indonesia saat ini lebih liberal dari yang ada di barat.
Sedikit berbicara demokrasi di barat bahwa di barat demokrasinya terbatas karena hampir sebagian negara di Eropa masih ada sistem kerajaan yang masih memiliki kewenangan untuk mengendalikan situasi politik.

Pada akhirnya Indonesia kebablasan mengambil demokrasi padahal semestinya kita mendialogkan dengan Syura yang merupakan konsep politik kita yang tertuang di sila keempat Pancasila.

Nah begitu juga kapitalisme kita benar-benar mengambil kapitalisme ini persis dengan kapitalisme yang ada di barat sehingga melahirkan kesenjangan yang sangat luar biasa.

Adakah nilai lokal yang senafas dengan konsep syura yang Islami yang bisa menjadi pembanding konsep buruk liberalisme itu ?

Kaitannya dengan kearifan lokal, ternyata ada kerajaan yang paling demokratis yang pernah ada di Indonesia yaitu kerajaan Wajo. Dimana raja Wajo tidak memiliki kekuasaan mutlak tapi kerajaan itu memiliki semacam DPR yang berbasis dari daerah, misalnya kecamatan-kecamatan yang juga bisa ikut memberikan pendapat dan pengawasan kepada raja.

Bagi Hidayatullah dengan menetapkan tema Munas ‘Meneguhkan Komutmen Keummatan bagi Indonesia Bermartabat, berarti sudah menemukan akar dari mana dimulai memperbaiki martabat bangsa ?

Ya.. Hidayatullah itu mainstreamnya gerakan pendidikan dan dakwah, maka tidak ada perbaikan kehidupan tanpa dimulai dari pendidikan, tidak akan pernah ada sebuah kebaikan yang kita raih dalam hidup ini yang tidak dimulai dari pendidikan, semuanya harus dari pendidikan atau ilmu.

Dan orang yang sudah mempunyai ilmu atau orang sudah beriman harus juga menularkan itu kepada orang lain dengan melalui pendidikan atau dakwah.

Dari sini kita star, jadi kita sebagai sebuah lembaga pendidikan dan dakwah atau ormas Islam yang lain yang juga merupakan ujung tombak dari perbaikan ummat sekaligus perbaikan bangsa.

Ormas-ormas Islam atau pesantren ini sudah berada pada jalan yang benar hanya saja yang lebih dituntut adalah bagaimana ormas Islam atau pesantren-pesantren ini lebih ekspansif, bagaimana seorang santri tidak hanya terus nenerus mengutip ayat atau hadits dalam diskusinya atau dalam ceramahnya tapi harus mampu mengelaborasi itu dalam segala aspek kehidupan.

Seperti pada aspek kehidupan apa misalnya tad ?

Salah satunya dibidang politik misalnya. Jadi ini merupakan tuntutan seorang santri karena memang pada dirinya sudah benar, tapi bagaimana dalam hal tuntutan dakwah, tuntutan berinteraksi dengan masyarakat yaitu karena memang dihadir sebagai saksi (Litakuunu syuhadaa alannaas) di tengah masyarakat.

Begitu juga dengan ormas, seperti Hidayatullah atau ormas Islam lainnya tuntutannya adalan jangan hanya sibuk dengan urusan internal, pendidikan dan dakwah.

Kita harus cemburu kepada pendiri bangsa ini yang walaupun mereka ulama besar tapi ternyata mampu merumuskan dasar negara yang sangat Islami, mereka melakukan diskusi yang sangat baik dan seimbang dengan orang-orang sekuler sehingga melahirkan jalan tengah yang baik yaitu Pancasila.

Apakah para santri Hidayatullah sudah dibekali untuk mengelaborasi nilai-nilai tarbiyah yang selama ini mereka dapat di pesantren dengan bidang-bidang yang aplikatif seperti ekonomi, politik dll.

Tentu sebagai sebuah wacana semua santri Hidayatullah sudah diarahkan ke sana. Namun kalau berpolitik praktis itu lain lagi merupakan dua hal yang berbeda, jadi berpolitik praktis harus ada modal sosial kapital, kita tidak bisa menjadi politisi atau terjun ke politik praktis misalnya caleg itu.

Kita tidak bisa terjun bebas tanpa ada sosial kapital harus ada modal sosial kita yang menjadi variabel penting untuk kita bisa terpilih. Kalau terpilih atau tidak itu urusan belakangan tapi tidak boleh ada kosongan peran santri dan dari di semua sektor.

Misalnya saya terjun di politik praktis karena memiliki modal sosial, modal sosialnya paling tidak dari tiga hal ada bacground orang tua yang punya sosial kapital yang ada di Sulsel, juga background sebagai aktivis Islam sebelum berHidayatullah yaitu HMI dan juga sekian lama sudah berdakwah melalui jaringan pesantren.■ bersambung/laida

*) Bincang seri Podcast bersama Ust Abdul Aziz Qahhar Mudzakkat dapat disaksikan melalui chanel YouTube Al Bayan Makassar TV di link https://youtu.be/W68k58u3yLA

Like, subscribe and share dari Anda insyallah akan menjadi kebaikan.



BACA JUGA