Rabu, 4 Januari 2023 | 04:35 Wita

Mengokohkan Berjamaah dengan Keikhlasan

Editor: Humas Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar
Share


Oleh: Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah

HidayatullahMakassar.id — Allah ta’alla berfirman dalam surah QS. As-Saff : 4

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ ﴿الصف :4 ﴾

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Dari semua ayat Quran yang mengatakan “sesungguhnya Allah mencintai” inilah ayat yang paling panjang dibanding ayat dengan maksud seruan serupa.

Ini pula ayat perintah yang sulit dilaksanakan karena tak bisa dikerjakan sendiri seperti amal lain seperti tawakal.

Tapi perintah dalam shaf dan jamaah menjadi sulit karena tak bisa sendiri-sendiri dilakukan.
Allah mencintai orang berjuang di jalan Allah dengan jamaah yang teratur bukan yang bergerombol.

Berjamaah itu Allah ibaratkan seperti bangunan kokoh, karena dengan berjamaah masing-masing jamaah akan menjadi komponen dengan potensi masing-masing sebagai kekuatan. Ibarat di masjid, pondasi dan besi beton adalah komponen yang meski tidak terlihat tapi mengokohkan bangunan masjid.

Pondasi bangunan menyimbolkan peran dan pentingnya keikhlasan (tak terlihat dan tak dipuji) yang menentukan kekuatan.

Bahwa sebenarnya kekuatan organisasi Islam (pesantren) itu pada keikhlasan. Sebenarnya dalam berjamaah makin kita tidak terkenal dan makin ambil peran maka semakin bagus.

Di kalangan tasawuf, hal seperti itu dikenal para walilullah mereka sosok yang tak dikenal dan tak menonjolkan diri. Hadir dan tidak hadirnya tak dirasakan oleh orang awam tapi peran spiritualnya yang luar biasa.

Inilah yang selalu menjadi bingkai kita beraktivitas di lembaga dakwah dan tarbiyah yakni membangun keikhlasan, walau itu tak juga mudah.

Sehingga kekurangan lembaga misalnya masih rendah kesejahteraan yang diberikan dan fasilitas belum baik, jika ada keikhlasan maka insyallah akan kita sikapi biasa-biasa saja.

Demikian pula jika ada jamaah yang tutur katanya masih sering menyakitkan hati maka itu bagi orang yang ikhlas hanya sebagai penambah kesabarannya saja. Karena orang ikhlas jika dipuji tak besar kepalanya dan jika dicaci tak merah telinganya.

Bagaimana kita sebagai jamaah ini apalagi jika dikaitkan peran-peran yang diamanahkan sebagaimana peran komponen bangunan.

Cat ini perannya keindahan maka sering dipuji, maka harus ada pula yang bisa menjadi cat. Jadi berjamaah ini semata-mata berbagi peran. Tidak ada istilah jabatan penting dan tidak penting. Ketua yayasan tidak lebih penting dari petugas kebersihan di pondok.

Jika masih ada yang masbuk dan malas berhalaqah maka itu kesalahan dewan pembina karena gagal membingkai dengan manhaj.

Inilah keindahan berjamaah. Setelah kenikmatan iman dan Islam ketika kita hidup dalam syariat. Demikian pula kita terorganisir sebagai pejuang Islam. Kecuali kita tak ingin mengikuti aturan dan sistim maka kita akan bias.

Lembaga ini yang otomatis mengarahkan kita sebagai pejuang Islam karena memiliki jatidiri dan manhaj yang jelas. Termasuk mujahadah pribadi dengan melaksanakan GNH (gerakan nawarin Hidayatullah), contoh shalat lail, sudah di level dan seberapa berkualitasnya?

Jadi ada mujahadah kelembagaan dengan sistem dan mujahadah pribadi dengan amal ketaqwaan.

Salah satu nikmat lain berjamaah karena semua hal dimusyawarahkan. Musyawarah itu merupakan perintah Allah. Disinilah pentingnya keseharian kita di lembaga ini diikat dengan pemikiran manhaji Nubuwah atau bingkai jati diri lembaga.

Karena tanpa itu kegiatan kita akan melelahkan dan tak manusiawi. Sudah gaji keras gaji hanya 1,5 juta. Maka jika ukuran materi dan fisik, kita akan lelah menjadi guru dan pegawai di lembaga ini.(fir)

*) Disarikan dari tausiyah pembukaan Raker Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar



BACA JUGA