Selasa, 18 April 2023 | 06:12 Wita

Siapakah Khalifah Itu?

Editor: Humas Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar
Share

Oleh : Drs KH Ahkam Sumadiana MA, Murrabi Hidayatullah dan Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — Siapakah Yang dimaksud “khalifah” oleh Allah SWT yang ditolak oleh para malaikat dan terutama Iblis? Ternyata dia adalah “basyar” yang memiliki kemampuan untuk mewakili dan menjaga serta melestarikan kehidupan manusia di atas dunia, melalui proses berkembang biak untuk keturunannya dengan visi membangun peradaban, berikut firman Allah SWT;

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلاَّ تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ ﴿٣٢﴾ قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٣٣﴾

Artinya: “Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”Berkata Iblis:”Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada “Basyar” yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. [al-Hijr [15]:32-33].

Iblis hanya memandang dari satu sisi yaitu asal usul “basyar” sehingga mengambil kesimpulan secara ekstrim tentang keberadaan “Basyar” puncaknya dijadikan alasan utama oleh Iblis untuk tidak mau sujud kepada “basyar”, pada saat yang sama Iblis memberikan argumentasi tentang asal-usul dirinya lebih baik daripada “basyar”, karena Allah SWT menciptakan-Nya dari api. Berikut argumentasi Iblis di hadapan Allah SWT;

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ﴿١٢﴾

Artinya; ”Allah berfirman:”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang “basyar” Engkau ciptakan dari tanah”. [Al-A’raaf [7]:12.

Pada dasarnya keterangan tentang “basyar” dipakai untuk menyebut seluruh manusia baik laki-laki maupun perempuan, perorangan maupun keseluruhan. Kata “basyar” adalah jamak dari kata “basyarah” yang berarti permukaan kulit muka, wajah dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut. Ibn Barjah mengartikannya sebagai kulit luar.

Al-Laits mengartikannya sebagai permukaan kulit pada wajah dan tubuh manusia, karena itu kata mubasyarah diartikan mulamasah yang berarti persentuhan antara kulit laki-laki dan kulit perempuan, disamping itu kata mubasyarah diartikan sebagai al-wath’ atau al-jima` yang berarti persetubuhan. [Manzhur: h, 124-126. 1968].

Pemakaian kata “basyar” di beberapa tempat dalam Al-qur’an memberikan pengertian bahwa yang dimaksud adalah anak adam yang biasa makan dan berjalan di berbagai macam tempat termasuk di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan.

Selanjutnya “basyar” juga dipergunakan untuk menyebut semua makhluk jelata yang lainnya, karena mempunyai ciri-ciri tertentu dan persamaan umum. Adapun ciri-ciri itu antara lain adalah kenyataan lahiriah yang menempati ruang dan waktu, serta terikat oleh hukum-hukum alamiahnya.

Manusia dalam pengertian basyar mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada dalam alam semesta ini, dan oleh bertambahnya usia, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya.

Iblis melihat bahwa “Khalifah” dalam sosok “basyar” sepenuhnya tergantung kepada alam sekitarnya, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan dan diminumnya. Dengan demikian bahwa “basyar” dalam dimensi alamiahnya mempunyai ciri-ciri pada umumnya yaitu, berkembang biak, makan, minum, sakit dan kemudian mati.

Eksistensi Basyar Sebagai Makhluk Jelata

Hakekat “basyar” yang memiliki banyak kompotensi untuk mewakili dan menjaga serta melestarikan kehidupan manusia di atas dunia, melalui proses berkembang biak untuk keturunanya dengan visi membangun peradaban. Berikut firman-Nya;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ﴿٢٠﴾

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) ”basyar” yang berkembang biak”. [Ar-ruum [30]:20].

Penjelasan dalam tafsir tentang ayat yang mulia tersebut di atas bahwa Allah ta’ala berfirman وَمِنْ آيَاتِهِ dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, yang menunjukkan keagungan-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah, أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ‘Dialah yang menciptakan kalian dari tanah’. ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ ‘Kemudian kamu tita-tiba menjadi “basyar” berkembang biak’ Asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina, lalu dibentuk menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, lalu menjadi tulang-belulang yang berbentuk manusia, lalu Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh kedalam tubuhnya. Lalu dia dapat mendengar dan melihat.

Kemudian dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatan dan daya geraknya. Kemudian semakin panjang umurnya, maka semakin sempurna pula kekuatan dan daya geraknya, hingga menjadi seperti sekarang ini, mampu membangun kota-kota dan benteng pertahan, melakukan perjalanan di pelosok bumi, mengarungi samudra, mengelilingi berbagai benua dan menghimpun berbagai harta. Diapun memliki pemikiran dan pendalaman, kejelian, pendapat, ilmu dan wawasan tentang perkara-perkara dunia dan akhirat sesuai dengan kemampuannya.

Maha suci Rabb yang memberikan kekuatan kepada mereka, memperjalankan, mengatur dan mendistribusikan mereka dalam berbagai jenis kehidupan dan usaha serta terjadinya berbagai tingkatan dikalangan mereka dalam bidang ilmu, pemikiran, kebaikan dan keburukan, kekayaan dan kemiskinan serta kebahagiaan dan kecelakaan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله خلق أدم من قبضة قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على قدر الأرض جاء منهم الأبيض و الأحمر والأسواد وبين ذلك والخبيث والطيب والسهل والحزن وبين ذلك.

Artinya:“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dari satu genggaman yang digenggamnya dari seluruh bumi. Lalu datanglah anak-anak Adam sesuai dengan bumi, ada yang putih, merah, hitam, dan ada diantara yang demikian. Ada pula yang jahat, baik, senang, dan yang berduka serta ada diantara yang demikian”. (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari beberapa jalan, dari ‘Auf al-A’raby. At-Tirmidzi berkata Hadts ini hasan shahih”. [Abdullah Bin Muhammad Bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6 (Dar al-Hilal Kairo: Pustaka Imam Asy-Syafie’ Muassasah, 2008), h.363].

ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
(Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) “Basyar” yang berkembang biak. Asal kalian adalah dari tanah, kemudian dari air yang hina (many), lalu dibentuk menjadi segumpal darah, kemudian segumpal daging, lalu menjadi tulang-tulang yang berbentuk manusia, kemudian Allah membalut tulang-tulang itu dengan daging dan meniupkan ruh kedalam tubuhnya.

Lalu ia dapat mendengar dan melihat. Kamudian, dia keluar dari perut ibunya sebagai anak kecil yang lemah kekuatan dan daya geraknya. [Imam Jalaluddin al-Mahally. Imam Jalaludin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, (Bandung: CV Sinar baru: tth), h. 1720].

Satu sisi sebagai makhuk ciptaan Allah “Basyar” memiliki potensi yang sama persis dengan kebanyakan makhluk hidup lainnya khususnya kebutuhan akan makan, minum dan berkembang biak, dapat sakit dan mati.

Namun kesamaan tersebut justru memberikan gambaran bahwa memang semua yang dilakukan “Basyar” sifatnya samagat manusiawi artinya seluruh pekerjaannya juga dapat dikerjakan oleh orang lain.(*)



BACA JUGA