Sabtu, 16 Juli 2022 | 06:23 Wita

Manhaj – Pandangan Ulama Terhadap Surah Al-Alaq 1-5

Editor: Firman
Share


■ Oleh : Ust H Ahkam Sumadiyana MADewan Pembina Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — Ketika Ibnu Taimiyah menjelaskan keistimewaan Surah al-‘Alaq, beliau menyatakan:
“إنها وأمثالها من السور التي فيها العجائب، وذلك لما جاء فيها من التأسيس لافتتاحية تلك الرسالة العظيمة، ولا تستطيع إيفاءها حقها عجزاً وقصوراً”.

“Sungguh di dalam Surah al-Alaq dan surah semacamnya terdapat keajaiban-keajaiban karena mengandung prinsip-prinsip dasar (at-ta’sis) untuk mengawali risalah (Islam) yang agung, dan Anda tidak akan mampu memenuhi haknya (Surah al-‘Alaq) disebabkan karena ketidakmampuan dan keterbatasan”. [Dinukil oleh Syekh ‘Athiyah Muhammad Salim dalam kitab tafsir Tatimma Adhwa’ al-Bayan, Juz 2, hal. 242. (Sesuai Maktabah Syamilah].

Ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ini mengisyaratkan bahwa surah al-‘Alaq ayat 1-5 mengandung banyak rahasia sebagai wahyu pertama.

Diturunkannya lima ayat pertama di surah al-Alaq sebagai pembuka risalah Islam pasti mengandung hikmah ilahiyah yang patut dikaji secara mendalam.

Meskipun demikian Syaikhul Islam menyadari bahwa kita tidak mampu menyingkap seluruh hikmah dan rahasia yang terkandung di dalamnya karena keterbatasan kemampuan.

Di antara hikmah yang dapat ditangkap bahwa surah al-Alaq ayat 1-5 dan ayat-ayat yang turun setelahnya di awal-awal surah al-Qalam, al-Muzzammil, al-Muddattsir, patut dijadikan sebagai landasan dan kerangka dasar dalam membangun peradaban Islam.

Keterkaitan surah al-Alaq dengan manhaj tartiib nuzuli, Dapat menjadi hujjah dan landasan syar’i bahwa manhaj tartiib nuzuli/sistematika wahyu adalah berlandaskan al-Qur’an dan sunnah serta ijtihad ‘ulama.

Berikut pernyataan Syekh Abdul Karim Zaidan berkata:
“فالنهج الصحيح في الوسائل والأساليب هو المستقى من مصادر وأساليب الدعوة وهي: القرآن الكريم، السنّة النبويّة، سيرة السلف الصالح، إستنباطات الفقهاء والتجارب. والاستمساك بهذا النهج ضروري لكل داع ولازم له وواجب لأن الإسلام يقضي به، والواجب على المسلم أن يتمسك بما يقضي به الدين، كما أن التزام هذا النهج الصحيح يقرب من الغاية ويوصل إلى المراد ولو بعد حين بخلاف غيره من المناهج فانه خطأ ويبعد عن الغاية ولا يوصل إلى المطلوب “.

“Manhaj yang benar berkaitan dengan sarana dan metode adalah yang terhimpun dari sumber-sumber berikut: al-Qur’an, as-Sunnah, sejarah kehidupan generasi awal (sirah salafus shaleh), istimbat ulama, dan pengalaman-pengalaman.

Berpegang teguh dengan manhaj seperti ini sangat penting dan keharusan bagi setiap da’i karena Islam telah menetapkannya.

Maka setiap muslim wajib berpegang pada apa yang telah ditetapkan oleh agama, sebagaimana berpegang dengan manhaj yang benar ini mendekatkan kepada tujuan dan mengantarkan kepada sasaran meskipun setelah masa yang panjang.

Berbeda dengan manhaj-manhaj lainnya yang keliru, justru menjauhkan dari sasaran dan tidak mengantarkan kepada tujuan yang dimaksud”. [Abd al-Karim Zaidan, Usul Fiqh al-Da’wah, Beirut: Muassasah al-Risalah, cet. 2, 1987/1407, hal. 416].

Sedangkan Syekh Muhammad Izzah Darwazah mengemukakan alasan menulis tafsir berdasarkan tartib nuzuli, beliau mengatakan:
“ولقد رأينا أن نجعل ترتيب التفسير وفق ترتيب نزول السورة، …لأننا رأينا هذا يتّسق مع المنهج الذي اعتقدنا أنه الأفضل لفهم القرآن وخدمته. إذ بذلك يمكن متابعة السيرة النبوية زمنا بعد زمن، كما يمكن متابعة أطوار التنزيل ومراحله بشكل أوضح وأدقّ، وبهذا وذاك يندمج القارئ في جوّ نزول القرآن وجوّ ظروفه ومناسباته ومداه، ومفهوماته وتتجلى له حكمة التنزيل”.

“Sesungguhhnya kami memandang perlu menyusun tafsir berdasarkan urutan turunnya surah.

Karena kami memandang (tafsir berdasarkan tartib nuzuli) ini sesuai dengan manhaj yang kami yakini lebih utama untuk memahami al-Qur’an dan menerapkannya.

Melalui pendekatan tersebut kita bisa menelusuri sirah nabawiyah dari waktu ke waktu, juga dapat menelusuri fase turunnya wahyu dan tahapan-tahapannya secara lebih jelas dan mendalam.

Dengan demikian pembaca bisa merasakan suasana turunya al-Qur’an, kondisi pada saat itu, keterkaitan dan latar belakangnya, serta konsep-konsepnya. Di sinilah nampak hikmat diturunkanya wahyu al-Qur’an”. [Muhammad Izzah Darwazah, Al-Tafsir al-Hadits, Jilid 1, hal. 9].

Apa yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad Izzah Darwazah sebagai hujjah disusunnya tafsir al-Qur’an berdasarkan tartib nuzuli dapat juga dijadikan sebagai alasan kenapa tartib nuzuli dijadikan sebagai manhaj gerakan dakwah dan tarbiyah.

Melalui tartib nuzuli, kita dapat meneladani perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti fase-fase dakwah beliau dan mengambil ibrah (pelajaran) dari tahapan-tahapan turunnya wahyu al Qur’an untuk dijadikan sebagai manhaj gerakan tarbiyah dan dakwah.

Proses turunnya al-Qur’an secara bertahap dan berangsur-angsur sesuai kondisi dan kebutuhan ummat menjadi salah satu faktor penting yang mengantarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meraih kesuksesan yang gemilang dalam mengemban risalah dakwah.

Jika memperhatikan secara cermat kandungan wahyu-wahyu awal yang terdapat di dalam lima surah pertama berdasarkan tartib nuzuli. Kita akan menemukan berbagai rahasia dan hikmah yang sangat besar sehingga pantas menjadi kerangka dasar dalam melakukan rancang bangun peradaban Islam. Wallahu a’lam.■ 



BACA JUGA