Kamis, 17 November 2022 | 10:44 Wita

Mengapa Bangga dengan Hidayatullah ? Bag 1

Editor: Humas DPW Hidayatullah Sulsel
Share

Oleh : Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — “Mengapa Bangga dengan Hidayatullah ?” judul yang diamanahkan oleh DPW Hidayatullah Jakarta untuk kita ulas (dalam kajian Kamisan). Namun saya ingin mengoreksi pada istilah dan diksi “bangga” Karena dalam Quran, istilah ini tidak pada hal positif penggunaannya.

Misalnya dalam salah satu ayat Allah mencela golongan yang membanggakan kelompoknya,

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32)

Terlepas dari istilah itu, memang keberadaan kita di Hidayatullah benar-benar harus mampu mensyukurinya. Mampu merasakan mengapa kita harus bersyukur. Karena begitu besar nikmat karunia Allah ta’alla anugerahkan bagi kita di Hidayatullah.

Selain tentunya yang utama yakni mensyukuri nikmat iman dan Islam. Karena di luar dari hal itu hanyalah fatamorgana. Tanpa itu adalah kesia-siaan, kesesatan dan permainan saja.

Tentu karena iman dan Islamlah juga asbab hadirnya Hidayatullah. Tentang adanya manhaj Sistematika Wahyu Hidayatullah juga adalah kenikmatan, bersamaan dengan imamah jamaah, karena dalam kontek kesyukuran ini paralel. Betul-betul secara bersamaan sebagai karunia besar di Hidayatullah.

Karena jamaah itu betapa besar manfaatnya. Suatu karunia pula di Hidayatullah karena kita memiliki manhaj Sistematika Wahyu.

Saya sering menyebutkan bahwa dari enam jati diri Hidayatullah (Sistematika Wahyu/SW sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, Ahlus Sunnah wal Jamaah, Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun minal muslimin, dan Wasathiyah) yang paling utama adalah SW dan Imamah Jamaah.

Karena inilah yang menjadi warisan utama dari allahuyarham ustad Abdullah Said (pendiri Hidayatullah). Bahkan istilahnya pun secara murni kita warisi. Saat Abdullah Said masih hidup dan para kader awal tak pernah tanyakan apa bahasa Arabnya Sistematika Wahyu.

Setelah beliau Ustad Abdullah Said meninggal, para pengurus berkesempatan mengkritisi semua konsep di lembaga ini. Dan diperoleh terjemahan Sistematika Wahyu denganTartibul Nujulul Wahyu.

Begitu pun istilah Imamah jamaah tidak ada di dalam Quran dan hadits, yang ada sebagai istilah terpisah yakni imamah dan jamaah. Setelah dikaji, para ulama kita membolehkan istilah Imamah Jamaah tetap kita gunakan sampai saat ini.

Walau Jati Diri yang lain juga hal yang utama dan penting. Ahlul sunah wal jamaah sangat penting karena mendasar, Jama’atun minal muslimin juga penting sebagai positioning Hidayatullah.

Hanya saja memang yang benar menjadi tema besar kajian dan pemikian Ustad Abdullah Said adalah dua hal itu (Sistematika Wahyu dan Imamah Jamaah) walaupun tentu juga dari segi substansi perjuangan Hidayatullah semua Jati Diri yang empat lainnya juga menjadi orientasi Abdullah Said. Tapi tidak secara khusus menjadi ceramah yang diseriusinya.

Jati Diri Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah juga tema kajian mendasar sehingga ada ijtihad beliau (Abdullah Said) yang luar biasa, kemudian menjadi ciri khas Hidayatullah pada masa beliau. Ketika ustad Abdullah Said mengambil kebijakan “tidak ada kepemilikan harta secara pribadi di Hidayatullah”.

Ijtihad itu dengan memahami salah satu ayat jihad

۞ اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.

Bahwa orang beriman itu Allah sudah membeli jiwa dan hartanya. Sehingga sesuai dengan konteks persoalan yang Abdullah Said hadapi saat itu bahwa dakwah harus totalitas, harus lebur total dalam perjuangan termasuk harta pribadi.(fir/bersambung)



BACA JUGA