Kamis, 8 September 2022 | 08:52 Wita

Tantangan Tarbiyah dan Dakwah di Era Distrupsi

Editor: Humas DPW Hidayatullah Sulsel
Share

Oleh : Ust Dr Ir H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — Peran utama yang dilaksanakan Rasulullah adalah dakwah dan kesehariannya menyampaikan tarbiyah. Maka di Hidayatullah kebijakan strateginya mengarusutamakan pekerjaan tarbiyah dan dakwah dalam mewujudkan visi misinya.

Tarbiyah, taklim dan ta’dib merupakan tiga term yang serupa maknanya namun masing-masing memiliki kekhususan dengan penjelasan yang panjang tentunya. Lalu kenapa Hidayatullah memilih term tarbiyah ?

Istilah tarbiyah digunakan karena sesuai dengan kandungan manhaj nubuwah sistematika wahyu (SW) pada surah Al Alaq menggunakan istilah yang lebih dekat ke tarbiyah.

Juga karena lebih menekankan pada tauhid Rububiyah. Misalnya pada surah Al Imran : 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”

***

Persyaratan orang beriman itu ketika ia telah bersyahadat dan meyakininya. Iman, ilmu dan amal tidak boleh berpisah, jika berpisah langsung tak ada Islam. Sebab iman tanpa amal bohong, amal tanpa ilmu sesat.

Di masyarakat kita masih banyak yang berIslam karena faktor keturunan (lalu tak mendalami dan mengilmu Islanya), sehingga banyak terjadi fenomena dan praktek tradisi yang bisa batalkan iman yakni kesyirikan. Kesyirikan itu meyakini ada kekuatan lain (menentukan baik dan buruk) selain Allah.

Di daerah Materatasi misalnya ada kegiata “matola bala”, atau tradisi yang kecil mengandung kesyirikan misalnya saat mendirikan rumah dengan menggantung pisang di rumah. Dianggap budaya tapi ada keyakinan. Itu karena tanpa ilmu. Namun jika dianggap biasa saja tidak meyakini maka tidak merusak iman.

***

Ulama membagi dua jenis ilmu. Yakni ilmu Fardu Ain seperti aqidah, syariah, akhlak untuk makrifatullah. Kedua ilmu Fardu Kifayah contohnya mengurus jenazah jika ada orang yang telah mengurus maka gugur kewajiba yang lain.

Ilmu Fardu kifayah juga untuk ilmu umum, misalnya dalam suatu kampung perlu ada dokter. Karena Allah memerintahkan kita jika sakit maka wajib berobat.

Termasuk dalam rangka kesejahteraan bersama yakni makan, maka perlu ahli pertanian.

Demikian pula ada dua jenis ayat Allah. Pertama ayat yang diwahyukan yakni ayat Qauliyah. Serta ayat berupa fenomena dan kejadian di alam semesta merupakan ayat Kauniyah yang dibelajari melalui ilmu alam.

Penting mendalami dua jenis ilmu ini, bukan hanya salah satunya. Akan mantap ilmu alam dikominasikan dgn ilmu Allah. Sebab jika merujuk pada QS Ali Imran 190-191

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ
الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ‌ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Bahwa yang disebut Ulil Albaab (orang cerdas) itu :

  1. Senantiasa berzikir dalam keadaan duduk berdiri baring.
  2. Senantiasa memikirkan penciptaan bumi melalui ilmu alam.

***

Dakwah adalah mengajak ke jalan Allah. Allah ta’alla berfirman, “Siapakah yang perkataannya lebih baik dari mengajak ke jalan Allah” Artinya profesi terbaik menjadi seorang pendakwah.

Guru mengaji merupakan profesi terbaik menurut Allah. “Yang terbaik di antara kalian yang belajar dan mengajarkan Qur’an”. Namun citra guru mengaji berbeda karena masyarakat kita materialistik.

Para nabi dan rasul adalah manusia terbaik di muka bumi dan profesi mereka Dai. Dakwah tidak identik hanya dengan ceramah tapi hanya salah satu. Menjadi santri dengan akhlak baik pun sudah disebut berdakwah.

***

Era distrupsi sebagai produk langsung revolusi industri keempat (4.0) banyak memakan korban hadirnya teknologi digital. Termasuk perguruan tinggi akan banyak mati atau berubah.

Karena menjadi mahasiswa sudah bisa mengikuti kuliah dengan hanya berada di kamarnya. Pandemi lalu telah mempercepat era distrupsi itu.

Ini menjadi tantangan dan akan jadi tema besar, juga bagi perguruan tinggi Hidayatullah. Apakah mungkin kita bisa mentransformasi nilai-nilai pendidikan dengan pembelajaran secara online ?

Bukan saja kemudahan dan hal baik sebagai dampak teknologi digital. Juga lahirnya hal buruk seperti fenomena post truth. Yakni kebohongan yang berulang-ulang kemudian dianggap kebenaran.

Post truth telah banyak menghantar politisi sejumlah negara meraih kekuasaan, demikian pula untuk bisnis dan sosial.

Dan cara hadapi era distrupsi dengan sejumlah tantangan dan dampaknya dengan ilmu dan iman yang hanya quran yang bisa menjelaskannya. Aplikasinya kemudian kita kenal banyak jenis kecerdasan.

Ada tiga jenis kecerdasan utama :

  1. Kecerdasan intelektual (Kecerdsan intelaektual atau Intelligence quotient atau IQ, adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat dan pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan seperti halnya kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan suatu masalah, berpikir abstrak, memahami suatu gagasan, menggunakan bahasa, daya tangkap dan belajar. Tanda seorang memiliki kecerdasan intelektual tinggi di antaranya memiliki imajinasi serta kreativitas yang tinggi, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, memiliki minat yang tinggi terhadap sesuatu, berani mengajukan pendapat terhadap suatu kejadian, mampu mengingat hal-hal yang pernah dialami, senang menunjukan ekspresi, memiliki kepercayaan tinggi dan mampu menyelesaikan masalah sendiri).
  1. Kecerdasan emosi. (Kecerdasan emosional atau emotional quotient atau EQ untuk menjelaskan hubungan kausalitas antara empati, mengungkapkan dan memahami perasaan marah, pengendalian amarah, kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri, berdiskusi, memecahkan masalah, keramahan serta adanya sikap hormat.Juga merupakan suatu kemampuan atau intelegensi yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang lain. Ada beberapa ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional, yaitu: Mampu mengenali perasaan diri sendiri; Mampu membaca perasaan orang lain; Mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri; Tidak mudah baper (baca: tersinggung); Cenderung menjadi pendengar yang baik; Berpikiran secara terbuka dan mampu menerima pendapat orang lain; Tidak malu untuk minta maaf duluan).
  1. Kecerdasan spiritual. (Kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence/SQ ialah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia yang seutuhnya. Kecerdasan spiritual merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. bentuk kecerdasan spiritual dalam konsep pendidikan Luqman Al-hakim, diantaranya Larangan berbuat syirik, Kepercayaan kepada pembalasan Allah SWT, Perintah shalat, Amar Ma’ruf dan nahi mungkar, Perintah untuk sabar, Larangan bersifat sombong, Sederhanalah dalam bersuara dan merendahkan suara).

Inilah 3 kecerdasan yang harus dibenahi bersamaan. Diisi dengan ilmu dengan memahami Qur’an, hadits, dan ilmu umum lainnya. Tiga kecerdasan ini pula lah yang hendak disikan kepada mahasiswa PTH dan STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar khususnya.(fir)

*) Disarikan dari kuliah umum STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar