Jumat, 26 Agustus 2022 | 06:20 Wita

Pendidikan Terbaik Pendidikan Integral Ajarkan Akal Bersihkan Hati

Editor: Humas DPW Hidayatullah Sulsel
Share


Oleh : Ust Drs Ahkam Sumadiyana MA, Dewan Pembina Yayasan Al Bayan dan Instruktur Nasional Hidayatullah

TAKLIM, HidayatullahMakassar.id — Pendidikan membutuhkan tiga konsep sebagaimana Allah jelaskan dalam surah Al Jumah ayat 2. Konsep inilah yang Hidayatullah terapkan dengan strategi pendidikan integralnya.

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Hal pertama pendidikan (integral) itu membacakan atau mengenalkan kepada peserta didik ayat-ayat Allah. Baik berupa ayat qauliah maupun ayat qauniah (alam semesta dan isinya).

Sebagaimana Allah mengajar Nabi Adam berupa nama-nama ciptaannya di semesta. Maka menuntut ilmu itu wajib. Dari ayunan sampai ke liang lahat.

Mengajarkan ayat Allah sebagai sarana dan prasarana manusia menjalankan fungsi sebagai khalifatullah dan statusnya sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah, agar hidupnya menjadi mudah dan kebutuhannya terpenuhi.

Yang kedua, setelah manusia menjadi pintar, paham dan trampil selanjutnya dibersihkan hatinya. Inilah membedakan pendidikan integral dengan pendidikan umum.

Kita menginginkan para santri (Ponpes Al Bayan Hidayatullah dan peserta didik Al Bayan Islami School) maupun alumninya, semakin tinggi ilmunya semakin suci hatinya. Agar generasi kita banyak yang pintar tapi tidak arogan.

Apa itu ciri arogan? Mau menang sendiri dan enak sendiri. Sedangkan orang berilmu itu tawadhu. Walau tahu persis tentang sesuatu tapi tidak menjadi pemegang kebenaran lalu yang lain salah semua.

Maka santri di Hidayatullah harus tilawah jalan dan tazqiyahbya istiqomah. Puncak tazqiyah dengan shalat lail. Maka Hidayatullah “mewajibkan” pada santrinya untuk shalat tahajud karena qiyamullail paling efektif untuk bersihkan hati.

Karena Allah menjelaskan qiyamullail lebih khusuk dan amal yang lebih khusus.

Kalau seorang berwawasan lalu hatinya bersih maka kemudian “orang ini siap menerima Wahyu” yakni siap taat. Itulah mengapa santri Hidayatullah mudah taat karena tarbiyatul aqli dan nafsnya dijalankan. Maka tak mudah tersinggung apalagi marah (jika terkait dirinya).

Hidayatullah tak berbelit melaksanakan syariat. Contoh dilarang merokok. Bagaimana menerapkan ? Pihak lain bingung. Sedangkan di Hidayatullah mudah dilaksanakan tanpa dilarang karena telah lebih dulu dibenahi akal dan hatinya. Jika ada kasus kader yang merokok maka didoakan panjang-panjang saja.

Artinya perubahan itu harus dimulai dari diri dulu yakni dengan pendidikan integral yang mampu jalankan pesan dalam surah Al Jumuah, yang dilakukan Rasulullah sehingga cepat melakukan perubahan hanya butuh 23 tahun.

Maka perubahan membutuhkan kualitas intelektual, kualitas spiritual, kualitas ketaatan dan kualitas dalam transformasi knowladge dan nilai.(fir)

*) Disarikan dari materi Taklim Rutin Al bayan di Masjid Umar Al Faruk Ponpes Hidayatullah Makassar, Kamis (25/8/2022).



BACA JUGA