Jumat, 12 Agustus 2022 | 16:52 Wita

Bahagia karena Iman

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

Oleh : Suwito Fatah MM, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

OPINI, HidayatullahMakassar.id — Entah berapa kali, Imam Ahmad tak lagi sanggup menghitungnya. Jelasnya sekujur tubuhnya memar hingga babak belur akibat deraan cambuk para algojo.

Imam Ahmad mendekam di penjara karena didakwa membangkang penguasa zalim. Imam Ahmad menolak anggapan bahwa Al Quran itu sebagai makhluk sama dengan lainnya.

“Wahai Ahmad, teguhlah engkau. Sesungguhnya engkau dihukum dera karena (urusan) sunnah,” tiba tiba terdengar dari seberang bui menasehati. Sungguh aku telah dicambuk berkali kali karena minuman keras, itupun aku tetap bersabar.” Kemudian “kawan barunya” tersebut membacakan ayat,
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau” Qs. Ar Rum ayat 60

Kisah Imam Ahmad dengan kekukuhannya dalam memegang prinsip agama dalam hidup layak untuk menjadi teladan kita semua.

Sudah digariskan ada ragam warna dalam hidup manusia. Ibarat pelangi, ia tampak indah justru dengan warna-warni yang berbeda. Semua dicipta berpasangan. Ada hidup ada mati, ada suka ada lara, ada lelah ada semangat, ada kalah ada menang, dan seterusnya. Itulah fitrah hidup manusia.

Meski dilabeli “ahsanu taqwim” atau makhluk paling sempurna, nyatanya manusia tetap saja lemah di hadapan kuasa Allah Yang Maha Berkehendak, bahwa tidak semua keinginan manusia itu bisa terpenuhi. Terkadang sekali waktu, orang justru melakoni apa yang tidak diharapkan atau direncanakan sebelumnya.

Tentu saja yang demikian itu tidak mudah dijalani. Ia harus menyandarkan segala urusan sepenuhnya kepada agama dan keyakinan. Sebab, bagi orang beriman, semua urusan menjadi baik, sepanjang ia bersyukur atau bersabar atas apa pun ketetapan Allah tersebut. Ia meyakini, setiap persoalan yang dihadapi menjadi hadiah terbaik dari Allah yang menjadikannya pribadi yang lebih tangguh ĺagi.

Perlu disadari bahwa seluruh yang berlaku adalah ketetapan Allah. Catatan pena dipergilirkan kepada masing-masing hambaNya, baik yang menghabiskan hidupnya untuk mengabdi kepada agama maupun yang hanya dipakai untuk mengejar keuntungan dunia semata. Bedanya, ada nilai yang tidak akan sama di sisi Allah jika orientasi itu ternyata berbeda.

Ada peluh yang sama. Ada keringat yang sama-sama mengucur. Namun, ternyata niat yang membedakan tujuan, bahwa berniat baik dan berjuang niscaya akan diganjar lebih baik di sisi Allah daripada mengejar dunia semata.

Inilah spirit yang mencerahkan Imam Ahmad, seketika ia lebih bersemangat. Ia bahkan lupa jika ia pernah mendekam dalam penjara selama tiga periode rezim penguasa saat itu. Ia sanggup bertahan sedemikian kuat, meski jasadnya berbalut luka yang menganga. Wallahu’alam bishshawab.

*) Jumat 15 Muharram 1444 H jelang ashar. Di kantor Al Bayan Hidayatullah Makassar
Diambil dari Buku Mutiara Iman Penggugah Jiwa



BACA JUGA