Senin, 8 Agustus 2022 | 07:33 Wita

Spirit Muharram, Dari Riba ke Syariah itu juga Hijrah, Bag 3

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

Oleh : Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar Msi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar

TAUSYIAH, HidayatullahMakassar.id — Akibat adanya tantangan besar bagi kehidupan masyarakat dunia saat ini, salah satunya kerusakan mental dan perilaku menyimpang ummat merespon sekolah negeri makin sepi karena orangtua mulai percaya pesantren sebagi pendidikan terbaik saat ini. Ini juga bentuk hijrah.

Hijrah dalam arti fisik kata Rasulullah “Tidak ada hijrah setelah kemenangan futhul Makkah” Tapi hijrah secara maknawi yang perlu dikokohkan dan terus diamalkan. Di antaranya hijrah pola pikir.

Karena saat ini banyak sekali tuhan yang bisa sebabkan kita terjatuh pada kesyirikan. Mulai dari mempertahankan hawa nafsu berupa harta, maupun  jabatan.

Misalnya pedagang gunakan rentenir dan dana riba untuk modal usaha, Ketika dia tahu hal itu haram dan dosa riba yang mengerikan paling rendah seperti setubuhi ibu kandung, jika tak mampu keluar dan menikmati maka itulah tanda hawa nafsunya mendominasi. Tak percaya Allah ta’alla sebagi pemberi rejeki.

Contoh lain politisi yang meyakini tidak bisa menang kalau tak sogok dan berbohong. Dia pertuhankan hawa nafsunya. 

Maka hijrah dari bank konvensional ke bank syariah juga sebagai bentuk hijrah. 

Saat ini sedang terjadi krisis moneter yang bisa menyulut krisis ekonomi dunia. Semua ini sebagai keadaan karena kegagalan ekonomi riba untuk sejahterakan manusia di dunia.

Amerika Serikat saat ini masih negara terkaya tapi di AS juga luar biasa banyak orang miskin, mereka antri roti karena adanya disparitas kekayaan dan kemiskinan sangat besar di negara tersebut.

Ini terjadi karena korban ekonomi kapitalisme atau riba. Kesenjangan kaya dan miskin sudah tak bisa diselesaikan oleh sistem kapitalisme atau ekonomi riba.

Saat ini telah mulai disadari sehingga di Inggris berkembang ekonomi syariah. Maka mari kita hijrah pola pikir dari ekonomi riba ke ekonomi syariah. 

Demikian pula hijrah sikap dari sekolah umum ke pesantren. Maka mari kerjasama. Kami di pesantren dan Hidayatullah yang bervisi membangun kader beriman. Orangtua santri pun harus siap ditraining karena ini cara pendidikan akhlak/karakter.

Karena jika anak-anak diajari berakhlak di sekolah tapi tidak singkron di rumah maka percuma. Maka mari sama sama beri pendidikan.(fir)

*) Disarikan dari tausyiah Tabligh Akbar Muharram Yayasan Al Bayan Ponpes Hidayatullah Makassar diMasjid Umar Al Faruq, Sabtu (6/8/2022)



BACA JUGA