Jumat, 17 September 2021 | 22:36 Wita

Aida Chered Ibu Para Kader Mujahid Dakwah. Selamat Jalan Ibunda

Editor: Firman
Share

Oleh : Irfan Yahya, Ketua STAI Al Bayan Hidayatullah Makassar

HidayatullahMakassar.id — Jum’at, 17 September 2021 seantero jagat media sosial para kader Hidayatullah di seluruh nusantara silih berganti mengirimkan berita duka, bahwa Ibunda Aida Chered istri pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustad Abdullah Said telah berpulang ke rahmatullah, kabar duka ini disambut spontan oleh para kader dengan kalimat istirja dan doa-doa terbaik untuk almarhumah.

Sejak memutuskan “buang jangkar” di lembaga perjuangan Hidayatullah ini, secara pribadi saya tidak pernah berjumpah secara fisik dengan Ibu Aida, namun keagungan sosok beliau yang mahsyur di kalangan para kader Hidayatullah sedikit banyaknya turut saya rasakan. Sosok Ibu yang mendedikasikan seluruh jiwa raganya untuk turut serta merawat dan menjaga ritme gerak laju perjuangan para santri Hidayatullah agar tetap berjalan sesuai cita-cita serta idealisme lembaga. 

There always the tough woman behind a great man, rasanya quotes ini sudah tidak asing ditelinga kita. Bahwa selalu ada wanita tangguh di balik kehebatan seorang pria. Dalam sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad Saw, kita mengenal sosok Khadijah ra. Sosok wanita tangguh yang senantiasa setia mendampingi lika-liku awal mula perjuangan Nabiyullah Muhammad Saw menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini. 

Ketika Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama dan nampak gusar karena belum mengetahui persis apa yang terjadi atas dirinya, Khadijah ra. langsung tampil meyakinkan suaminya. Begitupun saat menjelang wafatnya, Khadijah menangis. Nabi heran apa gerangan yang ditangisi istri yang sangat dicintainya itu. Katanya, “Saya menangis bukan karena apa, tapi karena tidak ada lagi yang dapat saya korbankan untuk perjuangan. Kalau saya meninggal nanti dan tulang-tulang saya ada gunanya untuk perjuangan, maka gunakanlah tulang-tulang saya itu untuk perjuangan.” 

Demikianlah sepenggal kisah tentang episode cinta kasih sejati yang dipraktekkan oleh sepasang anak manusia dibawah tuntunan risalah nubuwwah dan menjadi uswah sepanjang akhir zaman bagi umat muslim di seluruh dunia. Bukan hanya uswah di dalamnya juga terkandung banyak hikmah yang dapat dijadikan sandaran dalam membangun bahtera rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Keharmonisan rumah tangga Nabiyullah Muhammad Saw dan Khadijah ra. ini kemudian menjadi sumber inspirasi bagi Allahuyarham Ustad Abdullah Said dalam membina dan membangun rumah tangga para santri dan kader Hidayatullah. 

Sepenggal kisah perjalanan hidup Ustad Abdullah Said dengan Ibu Aida, dapat kita baca kisahnya dalam buku Mencetak Kader karya Allahuyarham Ustad Masyur Salbu pada Bab IV, Rutinitas Ustad Abdullah Said:

“Saya nasihatkan kepada istri dan anak-anak saya serta jamaah sekalian, jaga dan peliharalah lembaga ini (Pondok Pesantren Hidayatullah-pen.), kembangkan dan besarkan sebagai karya kita semua dan tempat berkiprah kita yang mudah-mudahan akan mengantar menuju kesuksesan dunia-akhirat. Ini merupakan karya raksasa yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara dari gangguan-gangguan, baik yang datangnya dari jalur internal ataupun eksternal. Kita akan berkembang berbarengan dengan perkembangan lembaga ini. Kita akan besar seirama dengan besarnya lembaga ini.”

Nasihat itu rupanya melekat betul dalam anggota keluarganya dan hingga kini menjadi warisan yang sangat berharga. Ketika Abdullah Said wafat, banyak sekali orang yang menyumbang. Ibu Aida Chered lama memegang uang sumbangan itu di amplop. Jumlahnya tidak pernah dihitung, tapi pasti banyak karena amplopnya besar dan penuh. Uang itu diserahkan kepada pengurus yayasan tanpa disisakan.

Pengurus menyampaikan bahwa uang itu sah milik Ibu Aida. Banyak pula yang berbisik-bisik, sebaiknya uang itu ditabung oleh Ibu Aida untuk kelak menjadi biaya anak-anaknya melanjutkan sekolah. Namun ternyata beliau tetap tidak mau mengambilnya sedikitpun. Ada rasa takut menggunakan uang itu karena beliau merasa dilarang oleh Allahuyarham Abdullah Said. Para pembimbing mendatanginya satu hari,  untuk meminta pendapat bagaimana saran-saran Ibu Aida sehubungan dengan wafatnya Allahuyarham.

“Saya ini seorang kader. Saya tidak perlu menuntut macam-macam sebagaimana yang sering dinasihatkan oleh Allahu Yarham, yang penting kita berupaya melanjutkan perjuangannya, ” ujarnya. Demikian halnya para assabiqunal-awwalun. Walaupun ada yang keadaannya terseok-seok, namun tetap menjadi garda terdepan dari lembaga untuk menjaga keutuhan solidaritas dan soliditas. Mereka tidak ingin melihat lembaga yang telah diperjuangkan Abdullah Said itu gagal mencapai harapan dan cita-cita.

Walaupun ini hanya sepenggal kisah yang sempat tertulis, namun kisah tersebut dapat merangkum rangkaian panjang perjalanan hidup dan kehidupan beliau sebagai kader dan sebagai pendamping hidup Allahuyarham semasa hidupnya. Sosok Ibu Aida adalah sosok Ibu yang dengan belaian kasih sayangnya menyimpan memori yang begitu indah dikenang dalam benak seluruh kader biologis dan kader ideologisnya. Setiap dekapannya yang hangat memberikan rasa sejuk dan nyaman serta menguatkan semangat juang para kader. Derai airmatanya adalah mata air kehidupan yang menyemai bibit-bibit kader mujahid dakwah untuk tandang ke gelanggang di seluruh pelosok nusantara.

Ibu Aida, adalah sosok ibunda para mujahid dakwah. Semoga Allah ampuni seluruh dosanya, Allah terima seluruh amal ibadah, da’wah dan jihadnya, Allah kumpulkan bersama Para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, Shalihin dan Bersama suaminya tercinta Ustad Abdullah Said. Amiin Yaa Rabbal Alamin.■

Duka di Bumi Tamalanrea, 17 September 2021