Minggu, 1 Agustus 2021 | 10:34 Wita

Mendesain Rumah Islami

Editor: Firman
Share

Klinik Griya Islami: Ar. Muaz Yahya, IAI, AA, Prinsipal Arsitek Studio Panrita9 Architecs, Anggota Profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Member of Asean Architect (AA)

 

HidayatullahMakassar.id — Adakah konsep desain rumah Islami? Pertanyaan ini sudah sering kita dengar. Apakah kalau dalam rumah sudah ada terpajang hiasan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Quran, lafaz Allah – Muhammad, Asmaul Husna atau pernak-pernik Islami lainnya, maka rumah tersebut sudah dianggap sebagai rumah Islami?

 

Banyak pakar telah menyampaikan pemikirannya dari sisi praktisnya hingga aspek konsep dan filosofisnya terkait masalah ini, yang mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa rumah Islami adalah rumah yang kokoh bangunannya dan kokoh pula pribadi penghuninya. Desainnya memenuhi kriteria arsitektur (Aman – Nyaman – Indah) pada umumnya dan khususnya memenuhi kriteria rumah sehat, indah dan sederhana. Bukankah Islam senantiasa memperhatikan kesehatan, keindahan dan tidak suka berlebihan.

 

Untuk apa rumah Islami?  Adakah perbedaan antara rumah Islami dan rumah non islami? Tentu ada perbedaannya. Penghuni rumah islami membawa akidah mulia di dada, hati mereka dipenuhi cahaya iman, dan naungan cahaya itu terpancar di setiap sisi kehidupan.

 

 

Seorang muslim harus menjadi  Al-Qur’an yang berjalan di antara sesama, sebagaimana Al-Qur’an adalah akhlak Rasulullah SAW. Karena itu, sendi, perabotan dan cara pengaturan rumah seorang muslim haruslah menunjukkan keislaman pemiliknya (Shifatul Baitil Muslim – Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud)

 

Bagaimana ciri-ciri rumah islami? Rumah adalah tempat tinggal suatu keluarga, dimana para anggota keluarganya merasa nyaman, aman, tenang dan tentram. Beberapa ciri-ciri hunian islami : 

 

  1. Lingkungan sosial yang baik menjadi pertimbangan utama saat memilih rumah. Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dan peranan penting dalam membentuk perilaku penghuninya.
  2. Lokasi menjadi salah satu faktor yang membuat rumah menjadi hunian yang menyenangkan, dimana tersedianya layanan umum seperti listrik, air, fasilitas kesehatan, Pendidikan dan fasiltas umum lainnya.
  3. Luas hunian. Rumah yang luas atau tidak, kalau ditata dengan baik maka akan mendatangkan kenyamanan, keamanan dan ketenangan bagi penghuninya.  Rumah yang luas, memudahkan untuk menata kebutuhan ruang-ruang eksterior (taman) dan interiornya (ruang tamu, ruang tidur tamu, ruang tidur utama dan anak, ruang keluarga, ruang makan, mushallah, dapur dll). Rumah yang tidak luas, bukan berarti tidak bisa menjadi hunian yang indah dan nyaman. Dengan penataan yang baik, sempitnya rumah bisa diatasi.
  4. Ventilasi merupakan salah satu unsur penting yang menjadikan hunian menjadi rumah sehat. Dengan ventilasi yang baik, maka sirkulasi udara di dalam rumah bisa terjadi setiap hari. Ventilasi berupa bukaan-bukaan pintu jendela, void dan  karawangan dapat memasukkan udara kedalam dan keluar rumah (cross ventilation). Untuk ruang-ruang tertentu dapat dibantu dengan ventilasi mekanis. 
  5. Pencahayaan, juga menjadi salah satu unsur penting yang tidak terpisahkan dengan ventilasi. Mengatur dengan baik bukaan untuk pencahayaan agar sinar matahari sebagai pencahayaan alami bisa dimanfaatkan dengan baik. Untuk ruang-ruang tertentu terutama pada malam hari, dapat dibantu dengan pencahayaan buatan. Udara dan cahaya matahari ini adalah anugrah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan  semaksimal mungkin dalam menata rumah.

 

Rujukan yang pas dalam mendirikan rumah adalah Rumah Nabi sebagi prototipe hunian islami. Meski bentuknya  yang kecil dan sederhana, namun rumah itu penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan serta menjadi contoh ideal bagi rumah para sahabat dan untuk setiap muslim yang ingin  mendirikan rumah setelahnya. 

 

Lebih dari itu, sewaktu Nabi menata kota Madinah Al-Munawwarah, kaum Anshar telah  membagikan lokasi kavling dan ukurannya kepada saudara-saudaranya kaum Muhajirin, maka rumah-rumah pun mulai berdiri dan meninggi. Rumah-rumah yang sehat seperti yang diinginkan Nabi, yang cukup sinar matahari dan udara dapat bersirkulasi. Beliau melarang tetangga satu sama lain saling menyakiti dan tinggi bangunan rumahnya saling melebihi. Salah satu ajaran beliau tentang hidup bertetangga, “Jangan  tinggikan bangunanmu di atas bangunannya, nanti tak ada sirkulasi udara!” (Fi Madinah al-Rasul, Dr. Nizar Abazhah).

 

Semoga bermanfaat.■

 

*) Simak pula bincang podsact Klinik Griya Islami Mewujudkan Hunian Impian di chanel Youtube Albayan Media TV. Konsultasi dan pertanyaan melalui Redaksi HidayatullahMakassar.id 



BACA JUGA