Kamis, 25 Februari 2021 | 05:58 Wita

Seni Merintis Dakwah di Pedalaman Ala Yusuf Gatti

Editor: Firman
Share

Hidayatullah.com — MATA pria paruh baya itu sesekali berkaca-kaca ketika menceritakan kisah perjalanan dakwahnya di berbagai tempat, khususnya di wilayah terpencil. Beberapa kali ia tertawa ketika menceritakan pengalaman-pengalaman lucu. Dari ceritanya itu, ia nampak sekali ingin menunjukan bahwa dalam perjuangan dakwah, sesulit apa pun rintangannya, pertolongan Allah itu nyata.

Ustadz Muhammad Yusuf Gatti namanya, hampir separuh hidupnya ia habiskan di jalan dakwah. Ia sudah berkali-kali membuka lahan dakwah. Sejak masuk di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Kalimantan Timur pada tahun 1980, ia sudah berazam menyerahkan sisa hidupnya untuk mengurus agama ini.

“Setelah 6 tahun menimba ilmu dan mengambil spirit perjuangan dari para pendiri Hidayatullah, saya ditugaskan ke Berau, lalu Tarakan, Muara Mahakam, Tanah Grogot, kemudian diamanahkan ke Sulawesi Selatan, khusnya daerah Luwu Raya,” kisah pria kelahiran Enrekang itu.

Di Luwu Raya ia sudah banyak membuka lahan dakwah, dari daerah Masamba, Sorowako, Palopo, Bone-bone, Lambara dan sekarang ia tengah merintis di daerah Angkona. Ia juga mengaku sempat membuka lahan dakwah di Mamuju, kala itu selama beberapa bulan, ia harus bolak-balik Luwu Raya ke Mamuju, Sulawesi Tengah untuk mencari lahan.

Lahan Angker, Pemuda Kristen dan Ancaman Parang

“Sempat dapat lahan yang lokasinya di tengah-tengah hutan pedalaman Mamuju. Saya mencari orang untuk menemani saya masuk, ternyata tidak ada yang mau, karena tempat itu terkenal angker. Akhirnya terpaksa saya menyewa seorang pemuda beragama Kristen untuk masuk ke dalam hutan,” kisahnya.

Yusuf bercerita, ketika sampai ke lokasi hari sudah agak gelap, dan tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Bersama pemuda Kristen itu akhirnya ia terpaksa harus menginap di sebuah gubuk yang terbuat dari rotan di lahan angker itu.

“Sempat khawatir jika terjadi apa-apa, tapi melihat pemuda Kristen itu yakin bahwa Tuhan-nya selalu menjaganya, membuat saya merasa malu. Iman saya merasa tersinggung, kenapa saya harus ragu bahwa Allah selalu menjaga hambanya, apa lagi ini mengurus agama-Nya,” imbuhnya kepada Suara Hidayatullah saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Keesokan pagi, ia mulai membersihkan dan membabat semak belukar di atas tanah itu, tak berapa lama kemudian beberapa pria datang dengan masing-masing parang di tangan. Mereka mengancamnya agar segera meninggalkan lahan itu atau diparangi.

Dakwah Tak Pernah Sepi dari Kesulitan

Ia mengaku selama bertugas ia hanya mengandalkan modal semangat dan keyakinan bahwa Allah selalu bersamanya. Sesulit apa pun kondisi, ia yakin selama masih memperjuangkan agama ini, Allah akan selalu membantu.

“Secara pendidikan saya tak punya titel sarjana, jadi saya melihat apa yang bisa bermanfaat dari diri saya, ya, dengan merintis dakwah begini. Saya berharap umur saya habis dalam perjuangan dakwah,” pungkasnya.

Ia berbagi beberapa tips ketika hendak merintis dakwah. Ketika mendatangi suatu daerah untuk merintis pondok pesantren, hal pertama yang harus dilakukan adalah bersilaturahmi. Tak lupa, ia juga mengunjungi pemerintah setempat.

Ia mengatakan, dalam perintisan dakwah ini tak pernah sepi dari kesulitan. Termasuk saat memulai di Angkona, Luwu Timur. Ketika itu ia baru pulang dari masjid usai sholat Isya, kemudian istrinya berkata bahwa ia harus bersabar malam ini karena biar garam sebungkus pun sudah tak ada di dapur. Akhirnya pasangan ini harus menahan lapar hingga esok pagi.

“Sehabis Subuh saya menghubungi beberapa kenalan, eh, pagi itu juga saya ditransfer tujuh juta lebih. Saya bilang sama istri saya, mau berapa bungkus garam dibeli?” kisahnya sambil tertawa.

Kesulitan memang tak pernah sepi. Tetapi ia mengatakan, jangan pernah mengeluh dalam perjuangan. Harapan kepada Tuhan itu selalu. Kemudian ia mengungkap sebuah rahasia sukses dalam perintisan dan mengelola lembaga dakwah dan pesantren yang harus dilakukan oleh setiap pejuang dakwah.

“Rahasia terbesar yang paling penting dalam perjuangan ini agar berhasil adalah jangan pernah ada tujuan pribadi. Semua yang ada di sini ketika saya dipindahtugaskan harus saya tinggal, kecuali pakaian,” ungkapnya sambil menunjuk bangunan-bangunan kayu di Pesantren Hidayatullah Angkona itu.

Ia mengungkap, jika sudah ada tujuan pribadi, pasti perjuangan itu macet. “Mungkin hari itu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi kan Allah selalu memonitoring kita. Itu yang perlu kita jaga,” terangnya.

Ia berpesan kepada seluruh pejuang dakwah, bahwa Allah tak akan pernah membiarkan hamba-hambanya yang teguh memperjuangkan agama ini berlatur-larut dalam kesulitan. Maka dari itu libatkan Allah di setiap persoalan dalam perjuangan dakwah ini.■ Sirajuddin Muslim